Wisata Kuliner Malang

Bagi saya, pulang kampung ke Malang berarti bernostalgia dengan makanan-makanan masa lalu yang membawa begitu banyak kenangan manis. Lidah saya yang sudah terlalu banyak terpapar dengan kehambaran makanan tiba-tiba dimanjakan dengan campuran banyak rempah yang lezat. Mari kita mulai perjalanan kuliner di Malang:

Pangsit Mie Gajah Mada

Tak cuma Jakarta saja yang punya pangsit mie gajahmada, Malang juga memiliki restoran pangsit mie di kawasan Pecinan. Kekhasan pangsit Malang terletak pada ayamnya yang halus, daun selada sebagai penghias serta kekuatan merica yang dipadu dengan bumbu-bumbu lain, seperti kecap asin. Restoran yang sudah lebih dari 35 tahun berdiri ini setia menggunakan kecap asin serta saos merah merek Menjangan.


Selain pangsit, makanan favorit saya di sini Hee Wan, seporsi bakso ikan yang ditemani dengan saos merah pedas dan juga acar. Sementara untuk minum, saya selalu memesan es kopyor yang langsung mengguyur rasa dahaga akibat teriknya kota Malang.


Ayam Goreng Tenes

Ada dua hal yang khas dari restauran ayam goreng yang terletak di jalan Tenes ini, ayamnya yang kaya ketumbar serta kecapnya yang tak ditemukan di tempat lain. Sang pemilik memang meracik berbagai macam kecap hingga rasanya khas. Ayam-ayam kampung yang kaya rempah ini konon berusia tak lebih dari empat bulan, tak heran jika ayam-ayam tersebut masih sangat kecil. Satu potong ayam yang dibandrol 12.900 sendiri tak cukup dan saya menyarankan setidaknya dua potong ayam.


Satu hal yang spesial dari tempat ini, beberapa pegawai yang bekerja di sini adalah penyandang disabilitas, tuna rungu dan tuna wicara. Ketika saya mudik awal Juni ini, saya sempat dilayani oleh satu orang dari mereka. Sang pemilik, tante Yeti dan oom Dodit  memang begitu peduli dengan disabilitas.

Pangsit Mie Gang Jangkrik

Gang Jangkrik yang terletak di jalan Kawi ini menawarkan makanan non-halal. Di kawasan Soekarno Hatta sendiri mereka juga menawarkan versi halalnya. Tapi terus terang rasanya jauh berbeda. Selain pangsit mie, makanan lain yang saya rekomendasikan adalah tahu bakso serta siomay ikan. Sekali lagi makannya dicocol dengan saos merah yang memang khas kota Malang.


Pangsit Mie Gang Jangkrik juga menawarkan aneka rupa Chinese Food, yang wajib dicoba tentunya nasi goreng merah, karena apalagi artinya berkunjung ke Malang kalau tak mencoba nasi goreng berwarna merah.


Sate Sibun

Sate khas Ponorogo itu dipotong secara tipis dan panjang, lalu dagingnya ditusukkan ke dalam tusukan sate. Bumbu kacangnya juga cenderung kental dan manis, jauh berbeda dengan sate Madura. Sate Sibun yang dijual dengan harga 28000 per porsi ini bersebelahan dengan Gang Jangkrik. Hari itu saya memesan sate Sibun dan memintanya dibawa ke dalam Gang Jangkrik. Bisa kok!


Pecel Winongo

Sebenarnya pecel terenak di Malang itu namanya pecel Kawi yang terletak di jalan Kawi. Tapi, sang pemilik warung pecel ini meninggal dunia beberapa tahun lalu. Lalu terjadi perebutan tahta untuk meneruskan usaha pecel yang mengakibatkan warung pecel vacuum selama beberapa tahun lalu sekarang buka kembali, tetapi terbagi menjadi dua. Rasanya, tentu saja sudah tak seenak dulu lagi.


Tak jauh dari warung pecel Kawi, selemparan batu dari KFC Kawi, terdapat gerobak pecel yang nongkrong di depan SD Katolik. Gerobak pecel pincuk yang juga dikenal sebagai Pecel Panderman ini sudah ada sejak pagi hari. Bagi kalian yang belum tahu, pecel pincuk adalah pecel yang disajikan di atas daun. Satu porsi pecel dibandrol seharga sembilan ribu rupiah saja, tapi nasinya hanya empat atau lima sendok saja. Ada berbagai lauk yang ditawarkan, seperti tempe, telur, sate daging ataupun empal ayam. Sebagai pelengkap, ada juga rempeyek yang tak seperti rempeyek biasa. Bumbu pecel ini sendiri cenderung agak lebih manis dari bumbu pecel biasa.

Rujak Cingur Warung Pojok Stasiun Kota Baru Malang

Kombinasi sayur-mayur yang dikukus, tempe, tahu, lontong, serta buah-buahan disiram dengan petis yang diuleg bersama kacang dan potongan pisang klutuk (pisang yang masih mentah).  Jangan lupakan juga potongan cingur, hidung sapi yang terlihat seperti jelly dan bertekstur seperti karet. Saya sendiri selalu memesan rujak ini tanpa cingur.

Selain rujak cingur, warung ini juga menyediakan aneka gorengan, seperti weci ataupun menjes. Semuanya dimakan dengan potongan cabe atau petis. Bagi kami orang Jawa Timur, petis memainkan peran penting dalam kuliner.

Masih banyak lagi kuliner Malang yang layak untuk dijelajahi, termasuk bakso, sempol, hingga tahu campur. Yang jelas kalau ke kota Malang, jangan terlalu sibuk membeli apple strudel, karena kami yang lahir dan besar di kota Malang tak pernah mengenal makanan ini sebagai makanan khas.

Kamu suka makan apa kalau ke Malang?

xx,
Tjetje

Advertisements

2 thoughts on “Wisata Kuliner Malang

  1. Merana baca tulisanmu ini. Sarapan buah sambil mbayangin menjes dicocol nang sambel petis dan ngletus lombok 😅 aku terakhir ke Malang itu sudah lamaaa banget jaman masih kerja di Jkt. Seingatku selalu beli bakso yg ada di taman yg gede, trus ke toko Oen. Semua kulineran yg ditulis di sini baru tahu sekarang. Eh kecuali pecel Kawi, pernah nyoba itu. Thanks, buat info kulineran kalau mau ke Malang kapan2.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s