Prague: Seharian Menyusuri Gang-gang Cobblestone

Akhir pekan Halloween di bulan Oktober kemarin, saya dan beberapa teman dari Dublin menghabiskan akhir pekan di Prague. Trip ini sendiri direncanakan jauh-jauh hari, sejak Spring, karena saya harus daftar visa terlebih dahulu. Sebagai pemegang paspor hijau, saya tak bisa jalan-jalan di negara Schengen tanpa visa. Enaknya, visa ini gratis dan dokumen yang diperlukan tak seribet biasanya, karena pasangan saya orang Irlandia.

Busker

Tinggal di Dublin membuat saya terbiasa dengan harga mahal jadi begitu tiga di Prague, atau yang juga dikenal dengan Praha, kepala yang terus-menerus mengkorvensi mata uang lokal langsung gembira dengan segala kemurahannya. Satu Euro di Prague kurang lebih 25 mata uang lokal, Checzh Koruna. Iseng-iseng saya mencari tahu berapa UMR di Prague, ternyata tak sampai 450€ per bulannya. Tak heran kalau ongkos tram, bir hingga makanan tak membuat kantong bocor.

Charles Bridge 

Sebagai turis, tujuan pertama tentunya jembatan Charles yang terkenal itu. Jembatan yang mulai dibangun pada tahun 1357 ini tadinya disebut sebagai Jembatan Prague dan berada di atas sungai Vltava. Jembatan ini sendiri sudah menjadi saksi bisu berbagai kejadian bersejarah di Prague, dari mulai banjir, hingga banjir darah dan menjadi tempat memajang kepala.

Jembatan yang menghubungkan castle dan kota tua ini dipenuhi pejalan kaki yang ingin mengambil foto. Kendati berangkat pagi, sepagi matahari terbit, kami ternyata Masih “kesiangan”, karena rombongan turis China dalam kelompok-kelompok besar sudah lebih dulu berada di sana. Para pedagang yang biasanya memenuhi jembatan sendiri baru mulai membuka lapak mereka.

Sisi-sisi jembatan cantik ini dipenuhi dengan patung-patung Gothic. Patung-patung ini rupanya patung replika, yang asli sendiri dipindahkan ke dalam Museum Nasional sejak tahun 1965. Kendati replika, banyak turis tampak berdoa sambil meraba-raba beberapa patung. Salah satu pasangan bahkan ada yang berdoa bersama di tengah keramaian, sementara turis lainnya foto dengan pose memamerkan tas.

John Lennon 

Tak hanya bagian atas, kami juga menyusuri bawah jembatan untuk mencari tempat sarapan. Tak disengaja, kami menemukan John Lennon Pub yang cukup terkenal itu. Pub Inggris ini berada tak jauh dari John Lennon Wall. Sayangnya hari itu kami kepagian dan pubnya belum buka.

John Lennon Wall yang berada tak jauh dari pub ini adalah tembok perjuangan. Tembok yang tadinya dipenuhi dengan graffiti yang terinspirasi oleh John Lennon dan lirik-lirik lagu the Beatles. Ketika pemerintah komunis masih memimpin, tembok ini sering membuat pemerintah kesal. Sekarang, tembok ini dipenuhi coretan-coretan ajakan perdamaian dan tentunya turis-turis yang sibuk mengambil foto.

Kota tua 

Kota tua Prague sendiri dipadati banyak turis yang berbondong-bondong ingin memotret jam astronomical terbesar ketiga di dunia.  Dan jumlah turis yang tumpah ruah di daerah ini tak main-main banyaknya, padahal saat kami pergi sedang low season.  Jam ini dipenuhi dengan ornamen yang menarik, termasuk tengkorak, yang mewakili simbol-simbol tertentu. Konon ketika jam ini berbunyi, setiap jamnya, kepala simbol ini akan bergoyang. Tak hanya itu, jam ini juga memiliki petunjuk zodiak serta matahari. Sungguh rumit dan penuh detail. Ketika kami berada di sana, jam ini sedang direnovasi, maka kami tak mendengar bunyi. Kendati direnovasi, turis-turis tetap semangat berada di sana untuk berfoto.

Satu hal menarik yang saya lihat di kota tua Prague adalah sumur cantik yang berada di depan Hard Rock Prague. Sayangnya tak ada informasi tentang sumur ini dan fungsinya pada jaman komunisme. Tapi bisa saya bayangkan sumur ini digunakan sebagai arena berkumpul.

Tur mobil tua 

Tur mengelilingi jalanan-jalanan kecil di Prague dengan mobil tua nampaknya cukup populer, saya perhatikan banyak mobil-mobil tua yang mengelilingi kota. Tur satu jam ini dibandrol dengan harga 100€ untuk satu jam. Pengemudi kami membawa keliling Prague, hingga sejauh castle sambil menjelaskan gedung-gedung yang kami lewati. Tak seperti tur di tempat lain, di sini turnya sangat strict, engga bisa melenceng kemana-mana.

Saya sendiri tak menyarankan untuk mengambil tur ini ketika musim dingin, karena hawa dingin benar-benar menampar. Di akhir perjalanan saya iseng menanyakan usia kendaraan, ternyata mobil ini bukan mobil kuno, hanya replika yang sengaja dipanjangkan untuk tujuan turistik.

Petrin Hill & Observation Tower

Tower yang terletak di atas bukit ini bisa dicapai melalui funicular railway, tram yang berjalan miring dan merambat di sisi bukit. Ongkos tram sender sudah termasuk dalam tiket harian yang saya beli untuk keliling kota dan dibandrol dengan harga 110 CZK.

Kami tak memutuskan untuk menaiki tower ini karena matahari sudah mulai tenggelam.  Ya beginilah kalau liburan di musim dingin, matahari bersembunyi lebih cepat.

Makan

Tak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tak mengulas makanan. Dari sekian banyak makanan yang saya makan, saya merekomendasikan Michelin Star restaurant V Zátiší untuk fine dining. Harga makanannya sendiri relatif bersahabat, tak lebih dari 50€ dan sudah termasuk 2 menu makanan, tips serta alcohol. Di Dublin, Michelin star setidaknya mematok harga tiga kali lipat dari harga Prague. Saya juga merekomendasikan roti khas Prague yang dijual di banyak sudut kota seharga 2€, roti-roti ini bisa diisi dengan pistachio, nuttela, ataupuan cream.

Atau kalau ingin mencoba yang lain, bisa mencoba ice cream canabis ini. Jika tak suka ice cream, ada permen, cookies, coklat, beer yang juga mengandung canabis.

Penutup

Prague itu terlalu indah dan terlalu menarik untuk dijelajah selama akhir pekan. Setidaknya diperlukan 3-5 hari untuk menjelajahi semua keindahannya, termasuk museum-museumnya. Selain harus berhati-hati dengan copet yang bersembunyi di balik kerumumanan manusia, pemilihan sepatu juga harus hati-hati, karena berjalan di cobblestone sayang tak nyaman di kaki.

 

Bagaimana, berminat untuk menjelajahi Prague?

xx,
Tjetje

Advertisements

Wisata Kuliner Malang

Bagi saya, pulang kampung ke Malang berarti bernostalgia dengan makanan-makanan masa lalu yang membawa begitu banyak kenangan manis. Lidah saya yang sudah terlalu banyak terpapar dengan kehambaran makanan tiba-tiba dimanjakan dengan campuran banyak rempah yang lezat. Mari kita mulai perjalanan kuliner di Malang:

Pangsit Mie Gajah Mada

Tak cuma Jakarta saja yang punya pangsit mie gajahmada, Malang juga memiliki restoran pangsit mie di kawasan Pecinan. Kekhasan pangsit Malang terletak pada ayamnya yang halus, daun selada sebagai penghias serta kekuatan merica yang dipadu dengan bumbu-bumbu lain, seperti kecap asin. Restoran yang sudah lebih dari 35 tahun berdiri ini setia menggunakan kecap asin serta saos merah merek Menjangan.


Selain pangsit, makanan favorit saya di sini Hee Wan, seporsi bakso ikan yang ditemani dengan saos merah pedas dan juga acar. Sementara untuk minum, saya selalu memesan es kopyor yang langsung mengguyur rasa dahaga akibat teriknya kota Malang.


Ayam Goreng Tenes

Ada dua hal yang khas dari restauran ayam goreng yang terletak di jalan Tenes ini, ayamnya yang kaya ketumbar serta kecapnya yang tak ditemukan di tempat lain. Sang pemilik memang meracik berbagai macam kecap hingga rasanya khas. Ayam-ayam kampung yang kaya rempah ini konon berusia tak lebih dari empat bulan, tak heran jika ayam-ayam tersebut masih sangat kecil. Satu potong ayam yang dibandrol 12.900 sendiri tak cukup dan saya menyarankan setidaknya dua potong ayam.


Satu hal yang spesial dari tempat ini, beberapa pegawai yang bekerja di sini adalah penyandang disabilitas, tuna rungu dan tuna wicara. Ketika saya mudik awal Juni ini, saya sempat dilayani oleh satu orang dari mereka. Sang pemilik, tante Yeti dan oom Dodit  memang begitu peduli dengan disabilitas.

Pangsit Mie Gang Jangkrik

Gang Jangkrik yang terletak di jalan Kawi ini menawarkan makanan non-halal. Di kawasan Soekarno Hatta sendiri mereka juga menawarkan versi halalnya. Tapi terus terang rasanya jauh berbeda. Selain pangsit mie, makanan lain yang saya rekomendasikan adalah tahu bakso serta siomay ikan. Sekali lagi makannya dicocol dengan saos merah yang memang khas kota Malang.


Pangsit Mie Gang Jangkrik juga menawarkan aneka rupa Chinese Food, yang wajib dicoba tentunya nasi goreng merah, karena apalagi artinya berkunjung ke Malang kalau tak mencoba nasi goreng berwarna merah.


Sate Sibun

Sate khas Ponorogo itu dipotong secara tipis dan panjang, lalu dagingnya ditusukkan ke dalam tusukan sate. Bumbu kacangnya juga cenderung kental dan manis, jauh berbeda dengan sate Madura. Sate Sibun yang dijual dengan harga 28000 per porsi ini bersebelahan dengan Gang Jangkrik. Hari itu saya memesan sate Sibun dan memintanya dibawa ke dalam Gang Jangkrik. Bisa kok!


Pecel Winongo

Sebenarnya pecel terenak di Malang itu namanya pecel Kawi yang terletak di jalan Kawi. Tapi, sang pemilik warung pecel ini meninggal dunia beberapa tahun lalu. Lalu terjadi perebutan tahta untuk meneruskan usaha pecel yang mengakibatkan warung pecel vacuum selama beberapa tahun lalu sekarang buka kembali, tetapi terbagi menjadi dua. Rasanya, tentu saja sudah tak seenak dulu lagi.


Tak jauh dari warung pecel Kawi, selemparan batu dari KFC Kawi, terdapat gerobak pecel yang nongkrong di depan SD Katolik. Gerobak pecel pincuk yang juga dikenal sebagai Pecel Panderman ini sudah ada sejak pagi hari. Bagi kalian yang belum tahu, pecel pincuk adalah pecel yang disajikan di atas daun. Satu porsi pecel dibandrol seharga sembilan ribu rupiah saja, tapi nasinya hanya empat atau lima sendok saja. Ada berbagai lauk yang ditawarkan, seperti tempe, telur, sate daging ataupun empal ayam. Sebagai pelengkap, ada juga rempeyek yang tak seperti rempeyek biasa. Bumbu pecel ini sendiri cenderung agak lebih manis dari bumbu pecel biasa.

Rujak Cingur Warung Pojok Stasiun Kota Baru Malang

Kombinasi sayur-mayur yang dikukus, tempe, tahu, lontong, serta buah-buahan disiram dengan petis yang diuleg bersama kacang dan potongan pisang klutuk (pisang yang masih mentah).  Jangan lupakan juga potongan cingur, hidung sapi yang terlihat seperti jelly dan bertekstur seperti karet. Saya sendiri selalu memesan rujak ini tanpa cingur.

Selain rujak cingur, warung ini juga menyediakan aneka gorengan, seperti weci ataupun menjes. Semuanya dimakan dengan potongan cabe atau petis. Bagi kami orang Jawa Timur, petis memainkan peran penting dalam kuliner.

Masih banyak lagi kuliner Malang yang layak untuk dijelajahi, termasuk bakso, sempol, hingga tahu campur. Yang jelas kalau ke kota Malang, jangan terlalu sibuk membeli apple strudel, karena kami yang lahir dan besar di kota Malang tak pernah mengenal makanan ini sebagai makanan khas.

Kamu suka makan apa kalau ke Malang?

xx,
Tjetje

Menggigil di Tenerife Utara

Jika di selatan Tenerife saya bermandikan matahari, bahkan bisa berjemur dengan suhu belasan derajat, di utara Tenerife saya menggigil karena cuacanya yang jauh lebih dingin. Wilayah utara Tenerife dihiasi dengan pegunungan Teide yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage).

Gunung Teide merupakan gunung berapi yang masih aktif. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 1909. Puncak gunung ini sendiri bisa dilihat dengan menaiki kereta gantung, bahkan beberapa operator menawarkan wisata malam hari sambil melihat indahnya langit-langit dan bintang-bintang. Sayangnya ketika kami pergi kesana, kereta gantung tersebut sedang tidak beroperasi selama beberapa hari, karena alasan keamanan. Alhasil, saya hanya bisa berpuas diri dengan pemandangan di atas. Beruntungnya, Tenerife ketika saya kunjungi tak sedang bersalju, hanya sedikit frosty, dingin dengan es di berbagai sudut.

Satu sisi pegunungan ini begitu cantik karena siraman matahari, sementara sisi lain pegunungan ini menawarkan pemandangan yang muram durja. Kemuraman ini tentunya karena musim dingin. Konon di musim panas, pegunungan ini diwarnai dengan tanaman-tanaman endemik berwarna merah yang bernama Teide bugloss. Mungkin satu hari kami harus kembali lagi untuk sekedar melihat tanaman-tanaman cantik tersebut.

 

The gloomy side of Teide #Spain #unescoworldheritage #NorthTenerife #Tenerife #Volcano #Teide

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Perjalanan mengelilingi gunung Teide sendiri relatif aman, jalanan tak terlalu lebar, tapi juga tak terlalu kecil. Dan di sepanjang perjalanan ini kami dimanjakan dengan pemandangan yang cantik. Satu hal yang perlu di catat, di Teide tak ada binatang buas, binatang terbesar yang ada di wilayah pegunungan ini adalah kelinci. Sementara hewan unik dari wilayah ini adalah landak (hedgehog) serta lizard.

Tak lengkap rasanya menyusuri Tenerife jika tak menjenguk desa Masca, sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan. Pada masa penyerangan bajak laut, desa ini konon tak pernah diserang, mungkin karena lokasinya yang sangat jauh. Nah bagian mengerikan dari kunjungan ke desa ini adalah jalanan yang berkelok-kelok dan sangat sempit. Diperlukan keahlian luar biasa bagi para pengemudi untuk bisa mengemudikan bis kecil, terutama di belokan yang naik tajam. Mulut saya tak berhenti komat-kamit, berdoa, apalagi ketika melihat bis di depan saya terus-menerus melorot. Doa saya makin kencang ketika bis ini berpapasan dengan mobil-mobil sewaan yang dikendarai turis yang tak paham medan dan mau menguasai jalanan kecil ini.

Bagi yang menyukai trekking, desa ini juga terkenal sebagai tujuan mendaki. Masca Barranco bisa dicapai dengan berjalan selama tiga jam saja. Mungkin untuk orang Asia dengan jangkauan kaki yang lebih pendek, bisa empat jam saja. Saya sendiri tak tergoda melakukannya, kendati diiming-imingi pemandangan cantik, dari laut ke pegunungan.

Bicara jalan-jalan tentunya tak lengkap jika tak membahas oleh-oleh khas. Ada beberapa hal yang khas dari tempat ini, salah satunya perhiasan dari batu obsidian, batu-batu berwarna hitam yang bisa ditemukan di sekitar gunung Teide. Selain itu, selai kaktus juga bisa menjadi alternatif buah tangan. Bagi mereka yang menyukai alkohol, ronmiel, rhum yang bercampur dengan madu menjadi buah tangan yang wajib dibawa.

Mencari Kehangatan di Tenerife

Salam hangat dari sisi dunia yang lebih hangat, Tenerife, pulau terbesar di kelompok kepulauan Canary. Terletak di sebelah barat Moroko, pulau ‘kecil’ yang menjadi magnet para pencari matahari ini dapat ditempuh dengan penerbangan selama empat jam saja dari Dublin, sementara dari Indonesia perjalanannya cenderung lebih jauh dan lebih ribet.

Kendati secara lokasi lebih dekat ke Afrika, pulau ini merupakan milik pemerintah Spanyol semenjak lima ratus tahun yang lalu. Bahasa resminya sendiri adalah bahasa Spanyol, sementara mata uangnya tentu saja Euro. Kendati begitu, pulau ini tak termasuk bagian dari EU. Hari ini saya menemukan hal menarik, bahwa bahasa Spanyol yang digunakan disini sedikit berbeda dengan yang digunakan di daratan. Menurut salah seorang pelayan di restauran, bahasa mereka disini kurang baku.

Tenerife menjadi rumah dari sebuah gunung berapi Teide. Gunung yang terakhir meletus di tahun 1909 ini masih aktif dan bisa dicapai dengan kereta gantung. Gunung ini sendiri menjadi gunung berapi tertinggi tertiga yang terletak di pulau vulkanik. Posisi pertama dan kedua sendiri diduduki oleh Mauna Kea dan Mauna Loa di Hawaii. Ketika pesawat mendarat, gunung ini bisa dilihat dari sisi kiri, sekali lagi sisi kiri pesawat, berkalung awan, sangat cantik. Gunung ini sendiri jadi mengingatkan saya dengan gunung Rinjani di Lombok yang juga terlihat cantik ketika pesawat akan mendarat atau lepas landas.

Terdapat dua bandara di Tenerife, di bagian utara dan dan di bagian selatan. Persis seperti di pulau Bali, bagian selatan pulau ini dipenuhi oleh hotel-hotel berbintang yang terletak tak jauh dari Samudra Atlantik. Daerah pinggir pantai sendiri dipenuhi oleh restauran dan juga toko-toko baju dan suvenir. Daster-daster yang ditawarkan pun tak jauh berbeda dengan yang dijual di pasar Sukawati. Bahkan, gantungan kunci dan pembuka botol yang berbentuk seperti alat kelamin pria juga bisa ditemukan disini. Saya bahkan menemukan satu yang dihiasi cicak. Ewwwww……

Deretan pantai-pantai berpasir hitam, karena gunung berapi Teide, dipenuhi dengan pemburu matahari seperti saya. Kursi-kursi untuk berjemur ditawarkan dengan harga murah, hanya 5 Euro saja untuk seharian, jauh lebih murah ketimbang Bali. Tiket sendiri dijual petugas yang berkeliling. Saya sendiri baru diminta membayar setelah lebih dari 45 menit memanggang kulit. Nah kalau di Bali ada banyak dadong-dadong yang menawarkan pijat, disini juga serupa. Para penjaja tas dan juga suvenir juga banyak berkeliaran, bedanya mereka tak terlalu memaksa. Dari pengamatan saya, kebanyakan para penjaja suvenir ini merupakan orang-orang Afrika.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya terus-menerus membandingkan dengan Bali? Ya karena area wisata ini bentuknya hampir sama dengan pantai-pantai di selatan Bali yang dipenuhi dengan resort-resort. Keramaian dan kepadatannya pun mirip dengan Bali.

Beberapa fakta menarik tentang Tenerife:

  • Christopher Columbus yang menemukan Amerika itu melakukan perjalanan dari provinsi Tenerife di tahun 1492, bukan dari pulau ini tapi dari Gomera.
  • Kecoa nampaknya menjadi masalah banget di pulau ini. Konon, kecoa yang kehilangan kepala disini bisa hidup sampai dua minggu. Well, pada pagi pertama suami saya udah ketemu sama kecoa dan gak berani ngegetok, karena takut lebih banyak lagi yang muncul.
  • Pulau ini dikunjungi setidaknya 5 juta turis setiap tahunnya, wajar saja, karena matahari yang menyirami pulau ini selama 300 hari.

Xx,
Tjetje

 

Mullingar: Menengok Kampung Niall Horan

Saya ini bukan Directioner, hanya perempuan baik hati yang mau mengantarkan adik sepupunya ke Mullingar. Mullingar sendiri merupakan kampung halaman Niall Horan, salah satu personel One Direction yang baru saja merilis lagu dengan judul “This Town”.

Tujuan pertama kami adalah rumahnya Niall Horan yang menurut Internet ada di kawasan Raithin Road. Dengan teknologi, kami bisa mencapai rumah tersebut, tapi sangsi apakah betul itu rumahnya. Eh baru saja kami parkir, tiba-tiba ada pria yang membuka pintu dan melambaikan tangan. Ramah banget deh, saya sampai GR aja karena nyangka ini abangnya Niall. Ternyata warga kampung disana udah biasa ketemu orang yang nyasar dan dialah yang menunjukkan kalau rumah Niall ada di kampung sebelahnya lagi. Abang ini juga baik banget, nunjukin gak pakai minta bayaran apa-apa. Coba kalau di Indonesia, pasti udah dipalak uang rokok deh.

Kampung sebelah ternyata lebih tenang, tak ada orang. Satu-satunya orang yang bisa kami temui hanya remaja yang pacaran di dekat lapangan. Tentu saja remaja itu kami usik dengan pernyataan dimana rumah Niall. Ternyata, saat itu kami sudah parkir persis di rumahnya. Wah sepupu saya langsung senyam-senyum tak berhenti, sambil berpose aneka rupa di depan rumah orang tua Niall. Khas turis Indonesia banget deh. Sementara saya merhatiin kelakuan anak muda jaman sekarang ini sambil nyemil Taro.

 

Nih penampakan rumah orang tuanya Niall di Mullingar sana.

Rumah orang tua Niall sendiri sangat sederhana. Jauh dari kesan rumah seleb. Engga ada satpam yang menunggu di depan rumah, apalagi bodyguard ataupun paparazzi. Lha wong dalam setahun dia cuma sehari dua hari saja di Mullingar, ngapain juga pakai pasukan pengaman ya.

Puas motret-motret, saya dan suami memutuskan untuk membawa sepupu makan siang di hotel tempat Niall diwawancarai untuk film “This Is Us”, nama hotelnya The Greville Arms. Hotel kecil yang menyajikan makanan dengan gaya warung Tegal (tunjuk makanan di balik lemari kaca, terus bayar) menyimpan dua British Award milik Niall. Award itu memang sengaja dipinjamkan dan diletakkan di depan meja resepsionis. Begini penampakannya:

Saya pun duduk di depan kaca ini bersama sepupu yang heboh mengisi buku tamu dengan kata-kata manis untuk Niall. Tiba-tiba, sang manager hotel menghampiri kami untuk basa-basi menanyakan negara asal kami, lalu dia bercerita tentang pengalamannya berinteraksi dengan keluarga Niall. Sumpahlah ini basa-basi khas Irlandia bangetlah. Bedanya, basa-basi ini diakhiri dengan tawaran untuk bertemu dengan Bapaknya Niall. Ya tentu saja sepupu saya jejingkrakan sambil menahan diri untuk tak menangis. Jangan tanya kenapa ia mau menangis hanya gara-gara akan ketemu si Bapak, saya pun gagal paham. Apalagi si bapak ini tak bisa nyanyi.
Kesan pertama ketemu bapaknya Niall, ia begitu sederhana. Jauh dari kesan bapak-bapak glamor, apalagi cetar membahana. Padahal anaknya sudah mendunia dengan kekayaan yang diprediksi lebih dari 25 juta dollar. Soal kesederhanaan, si Niall ini konon terkenal sebagai salah satu anggota 1D yang paling sederhana. Ketara banget kalau si Bapak ini gak numpang tenar terus langsung jadi manager anaknya. Boro-boro jadi manager, dia ketemu anaknya aja jarang.

Terus ngapain aja sama Bapaknya Niall? Ngobrol dong, nanya ini itu tentang anaknya. Kebetulan pada saat bersamaan ada Ibu-Ibu yang mengantarkan tamunya dari Jepang. Dia bertanya hal aneh-aneh, seperti bagaimana cara anak-anak ini menjaga kesehatannya *yang mana ini katanya udah dibahas di film mereka*. Ternyata ada chef yang jalan bersama rombongan sirkus One Direction. Jumlah rombongannya sendiri ada sekitar 100 orang lebih. Untuk tur di Eropa sih mereka enak, hanya perlu terbang dari satu kota ke kota lain. Yang melelahkan jika mereka harus tur di Amerika, karena mesti bepergian dengan bis. Bis ini sendiri sudah pergi meninggalkan venue ketika fans belum meninggalkan kursi. Jadi para fans gak usah mati-matian nungguin 1D kalau habis konser, percuma.

Bapaknya Niall, namanya Bobby, yang mirip dengan anaknya ini juga pernah ngikut anaknya ke Jepang. Kirain dia semangat gitu nonton anaknya konser, eh ternyata pas disana dia lebih semangat urusan sepakbola. Irlandia banget lah ya, olahraga nomor satu.

Engga ngefans tapi ikutan foto.

Si Bapak juga sempat nanya apakah kita sempat ke rumah mereka. Kita pun mengakui bahwa udah mampir kesana untuk foto-foto di luar. Yang dijawab mestinya kita ngetuk untuk say hi. Saya sebenernya mau melakukan hal itu, tapi berhubung suami melarang, batal deh. Alasan suami sih masuk akal, takut mengganggu privacy keluarga ini. Sementara saya mikir praktis, kan udah jauh-jauh nyetir ke Mullingar. #JauhLhoKayakJakartaBekasiDiHariJumatMalamHabisHujanPula

Ada banyak lagi hal-hal yang kami obrolkan dan di akhir perbincangan kami mengucapkan terimakasih karena si Bapak, yang namanya Bobby, sudah meluangkan waktu untuk bisa bertemu dengan kita semua.
Eh, si bapak yang malah terimakasih dengan para fans yang sudah membuat mimpi Niall untuk jadi penyanyi terwujud. Such a humble man. Tradisi menemui fans ini ternyata dilakukan tak hanya oleh si Bapak, tapi juga oleh ibu Niall dan neneknya yang rajin makan siang di hotel ini. Jadi kalau pas kesana, siapa tahu bisa samprokan dengan ibunya di warung  restauran hotel ini.

Sebagai orang yang tak ngefans dengan Niall Horan, saya takjub melihat bagaimana anak ini bisa membuat kota sekecil Mullingar dikenal dan dicari oleh banyak fans dari berbagai belahan dunia. He basically puts Mullingar in the map. Para fans remaja ini gak main-main lho, ada yang bertahun-tahun merayu orangtuanya untuk menabung dan jauh-jauh dari ujung dunia liburan ke Irlandia. Mungkin ini namanya fans berat ya.

Fakta tentang Mullingar:

  • Town (kota kecil) ini berpenduduk 19.794 di tahun 2011. Kecil banget.
  • Selain Niall, penyanyi lain yang berasal dari sini adalah Joe Dolan (1939-2007). Mungkin kalian harus nanya nenek atau mama tentang penyanyi ini. Yang punya Ryan Air (ini Air Asia versi Irlandia) juga berasal dari tempat ini.
  • Ada idiom yang melibatkan Mullingar, yaitu “beef to the heel like a Mullingar heifer, yang artinya gendut.


Kalian ada yang ngefans sama Niall? 

xx,
Tjetje
Contact me if you want a tour from Dublin to 
Mullingar

Cara Melawan Jetlag

Jetlag merupakan konsekuensi tak mengenakkan yang disebabkan perpindahan dari satu wilayah waktu ke wilayah waktu lain secara cepat. Kondisi ini juga dikenal dengan nama desynchronosis, tapi gak usah repot-repot ngapalin nama yang bikin lidah keplintir.

Dalam bahasa Indonesia sendiri jetlag disebut sebagai penat terbang atau lelah karena penerbangan. Kondisi psikologi yang mengacaukan ritme dalam tubuh ini biasanya banyak dialami oleh mereka yang bepergian lintas negara. Eh tapi, dari ujung Indonesia ke ujung lainnya juga menyebabkan jetlag lho. Saya sendiri pernah mengalaminya ketika harus pergi ke Ambon dan setibanya disana langsung dihajar oleh pekerjaan.

Jetlag sendiri dipercaya akan sedikit parah ketika bepergian dari barat ke Timur. Seperti perjalanan saya mudik ke Indonesia kemarin. Mudiknya hanya dua minggu sementara liburannya juga hanya dua minggu. Keparahan ini disebabkan fakta bahwa terjadi penambahan waktu, dalam kasus saya misalnya dari GMT 0 ke GMT+7. Sebaliknya, dari Indonesia ke Irlandia, jetlagnya tak terlalu parah dan bisa beres dalam dua tiga hari saja.

Lalu apa yang terjadi saat Jetlag? 

Yang pertama tentunya jam tubuh kacau. Di saat orang lain terlelap mata saya tak bisa diajak bekerjasama. Lampu dimatikan sekalipun mata saya tetap 100 watt. Padahal, dalam perjalanan saya selalu mengatur waktu tidur sedemikian rupa.
Selain itu, jam ke kamar mandi pun juga ikut kacau. Bagi mereka yang punya jadwal rutin pada jam tertentu, kerutinan ini tiba-tiba bisa bergeser ke pagi buta ketika ayam jago masih terlelap.

Saat orang-orang terjaga dan mulai beraktifitas, saya pun teler, tak bisa bangun dan badan rasanya sakit semua. #HayatiLelahBang.

Saat liburan tentunya hal seperti ini mengganggu. Apalagi jika berurusan dengan pekerjaan dan tiba-tiba harus memberikan presentasi. #CurhatBow
Jika demikian, bagaimana cara mengatasi jetlag?
Minum air yang banyak

Begitu saran dari beberapa artikel yang saya baca. Tapi saya menambahkan air dengan kopi hitam pekat khas Indonesia. Konon kopi dan alkohol tak disarankan, but screw it. Bagi saya yang bukan peminum kopi, kopi masih memberikan efek luar biasa ketika diminum. Makanya saya tak mau minum kecuali benar-benar ingin terjaga.

Sayangnya kopi tak selalu berguna, apalagi jika terbang dari Barat ke Timur. Seringkali karena tubuh sudah terlalu lelah, kopi hanya memberikan kekuatan beberapa menit saja. Setelah itu ya teler lagi.

Atur tidur saat bepergian 

Biasanya sebelum bepergian saya menghitung waktu di tempat saya berada, memperkirakan lama perjalanan serta waktu transit (dimana kadang saya dipaksa jalan) hingga waktu kedatangan. Dari situ saya kemudian memperkirakan bagaimana saya harus mengatur waktu tidur. Ada juga orang-orang yang mengatur jetlag dengan tidur lebih awal dari biasanya sebelum perjalanan, tapi buat saya ini terlalu ribet.

Jadi bagaimana cara mengatur tidur ini? Misalnya dari Dublin saya berangkat di pagi hari dan tiba di Indonesia di Malang hari. Ini artinya selama perjalanan dari Dublin sampai ke Indonesia saya harus membuka mata terus, sehingga saat tiba di Jakarta saya dalam kondisi teler dan langsung tidur.

Bagaimana kalau saya ketiduran di pesawat? Biasanya saya atur tak boleh tidur lebih dari beberapa jam. Saya juga mengkonsumsi alkohol di dalam penerbangan, terutama menjelang kedatangan supaya saat tiba bisa tidur dengan pulas.
Olahraga

Cara tercepat untuk membuat tubuh lelah adalah berolahraga yang membakar banyak kalori. Berenang, lari, bersepeda, atau bahkan jalan-jalan keliling bandara dan keluar masuk toko. Gak usah pakai belanja ya.  Nah, begitu tiba di negara tujuan, badan harus langsung digempur olahraga, lagi-lagi biar capai. Kalau gak bisa ya cukup bergerak aja, yang penting jangan diam.

Saya sendiri kalau berolahraga bisa dipastikan semakin segar dan tak mau tidur lagi. Jadi teori ini gak berguna bagi saya.

Minum obat tidur 

Bagi mereka yang bekerja, jam 3 pagi masih gegulingan di atas tempat tidur dan tak bisa memejamkan mata itu benar-benar siksaan luar biasa. Apalagi jika esoknya pekerjaan kantor menanti. Bisa dipastikan konsentrasi hancur dan kualitas pekerjaan menurun. Nah jika bener-bener diperlukan, konsultasi aja ke dokter untuk minta obat tidur. Tapi ingat ya, mesti ke dokter. Jangan asal ke apotek lalu minta obat tanpa konsultasi.

Kamu, punya cara untuk mengatasi jetlag?

Xx,
Tjetje
Sudah gak jetlag lagi. Horeeee!

Malang Yang Panas Membara 

Kota cantik yang dikelilingi banyak gunung ini saya kenang sebagai kota yang adem dan tenteram. Jaman sekolah dulu, kota ini dingin sehingga saya harus berbalut jaket menuju sekolah. Tapi berapa tahun belakangan, Malang berubah menjadi kota yang semrawut dan panas. Sumuk kalau kata orang Malang.

Sebagian trotoar yang sudah diperbaiki dan memiliki guiding block

Jalanan kota Malang dipenuhi dengan berbagai kendaraan, yang didominasi sepeda motor. Sayangnya, sama seperti di banyak tempat lain di Indonesia, para pengemudi sepeda motor ini masih banyak yang tak tahu aturan mengemudi dan lebih cocok jadi penari liang-liong. Soal macet jangan ditanya lagi.

Taksi menjadi andalan saya kemana-mana. Mikrolet biru, angkutan kota Malang tak lagi menjadi pilihan saya. Ongkosnya mungkin hanya 4000 rupiah, tetapi lambatnya daya tempuh menuju satu titik membuat saya tak sabar lagi. Orang-orang seperti saya inilah yang mematikan mikrolet yang memang sekarat. Ongkos taksi sendiri dibandrol minimal 30000. Sementara jika naik di pangkalan, ada ongkos ekstra 5000 rupiah untuk parkir. Sebenarnya bukan untuk parkir, tapi untuk para preman yang menguasai jalanan kota-kota Malang.


Kota Malang masih menawarkan kuliner yang membuat lidah saya menari-nari kegirangan. Nanti, dalam postingan terpisah akan saya ceritakan makanan apa saja yang berhasil membangkitkan kenangan masa lalu saya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah dari Jakarta dan rasanya lebih enak. Tapi mungkin bagi banyak orang, makanan tersebut menjadi mahal, apalagi UMR di Malang hanya 2.100.000 rupiah.

Malang juga dihiasi dengan sebuah masalah baru, meroketnya harga properti. Tingginya pendatang, terutama mahasiswa, membuat harga properti melonjak tinggi. Mahasiswa-mahasiswa ini tak hanya mencari kamar kos eksklusif, tapi banyak juga yang membeli properti. Tentu bukan mereka, tapi orang tuanya. Gaya hidup mahasiswa sekarang juga berbeda. Mereka tak lagi makan di warung, tapi makan di Cafe. Tak heran kalau Cafe di Malang menjamur dan bisa bertahan. Sementara, mereka yang dompetnya kurang tebal bisa berpacaran di pinggir jalan Ijen yang mulai dihiasi banyak kursi. Persis seperti di Sudirman. Bedanya, jalanan ini dipenuhi pohon-pohon rindang.

Tapi dibalik keruwetan sebuah kota yang terus berkembang, Malang masih menawarkan keramahan khas Arema. Bahkan, Mas-mas parkir dengan romantisnya memayungi dan menunggu hingga saya selesai memasukkan semua barang ke dalam kendaraan. Kata dia, saya tak boleh tersiram hujan, nanti masuk angin. Sayangnya mas tukang parkir tak bisa menyelamatkan sandal cantik saya yang terendam genangan air. Ah sudahlah, gak usah bahas gorong-gorong, nanti sakit hati….

Kamu, pernah ke Malang?

Xx,
Tjetje
Turis yang kaget melihat perubahan Malang