Prague: Seharian Menyusuri Gang-gang Cobblestone

Akhir pekan Halloween di bulan Oktober kemarin, saya dan beberapa teman dari Dublin menghabiskan akhir pekan di Prague. Trip ini sendiri direncanakan jauh-jauh hari, sejak Spring, karena saya harus daftar visa terlebih dahulu. Sebagai pemegang paspor hijau, saya tak bisa jalan-jalan di negara Schengen tanpa visa. Enaknya, visa ini gratis dan dokumen yang diperlukan tak seribet biasanya, karena pasangan saya orang Irlandia.

Busker

Tinggal di Dublin membuat saya terbiasa dengan harga mahal jadi begitu tiga di Prague, atau yang juga dikenal dengan Praha, kepala yang terus-menerus mengkorvensi mata uang lokal langsung gembira dengan segala kemurahannya. Satu Euro di Prague kurang lebih 25 mata uang lokal, Checzh Koruna. Iseng-iseng saya mencari tahu berapa UMR di Prague, ternyata tak sampai 450€ per bulannya. Tak heran kalau ongkos tram, bir hingga makanan tak membuat kantong bocor.

Charles Bridge 

Sebagai turis, tujuan pertama tentunya jembatan Charles yang terkenal itu. Jembatan yang mulai dibangun pada tahun 1357 ini tadinya disebut sebagai Jembatan Prague dan berada di atas sungai Vltava. Jembatan ini sendiri sudah menjadi saksi bisu berbagai kejadian bersejarah di Prague, dari mulai banjir, hingga banjir darah dan menjadi tempat memajang kepala.

Jembatan yang menghubungkan castle dan kota tua ini dipenuhi pejalan kaki yang ingin mengambil foto. Kendati berangkat pagi, sepagi matahari terbit, kami ternyata Masih “kesiangan”, karena rombongan turis China dalam kelompok-kelompok besar sudah lebih dulu berada di sana. Para pedagang yang biasanya memenuhi jembatan sendiri baru mulai membuka lapak mereka.

Sisi-sisi jembatan cantik ini dipenuhi dengan patung-patung Gothic. Patung-patung ini rupanya patung replika, yang asli sendiri dipindahkan ke dalam Museum Nasional sejak tahun 1965. Kendati replika, banyak turis tampak berdoa sambil meraba-raba beberapa patung. Salah satu pasangan bahkan ada yang berdoa bersama di tengah keramaian, sementara turis lainnya foto dengan pose memamerkan tas.

John Lennon 

Tak hanya bagian atas, kami juga menyusuri bawah jembatan untuk mencari tempat sarapan. Tak disengaja, kami menemukan John Lennon Pub yang cukup terkenal itu. Pub Inggris ini berada tak jauh dari John Lennon Wall. Sayangnya hari itu kami kepagian dan pubnya belum buka.

John Lennon Wall yang berada tak jauh dari pub ini adalah tembok perjuangan. Tembok yang tadinya dipenuhi dengan graffiti yang terinspirasi oleh John Lennon dan lirik-lirik lagu the Beatles. Ketika pemerintah komunis masih memimpin, tembok ini sering membuat pemerintah kesal. Sekarang, tembok ini dipenuhi coretan-coretan ajakan perdamaian dan tentunya turis-turis yang sibuk mengambil foto.

Kota tua 

Kota tua Prague sendiri dipadati banyak turis yang berbondong-bondong ingin memotret jam astronomical terbesar ketiga di dunia.  Dan jumlah turis yang tumpah ruah di daerah ini tak main-main banyaknya, padahal saat kami pergi sedang low season.  Jam ini dipenuhi dengan ornamen yang menarik, termasuk tengkorak, yang mewakili simbol-simbol tertentu. Konon ketika jam ini berbunyi, setiap jamnya, kepala simbol ini akan bergoyang. Tak hanya itu, jam ini juga memiliki petunjuk zodiak serta matahari. Sungguh rumit dan penuh detail. Ketika kami berada di sana, jam ini sedang direnovasi, maka kami tak mendengar bunyi. Kendati direnovasi, turis-turis tetap semangat berada di sana untuk berfoto.

Satu hal menarik yang saya lihat di kota tua Prague adalah sumur cantik yang berada di depan Hard Rock Prague. Sayangnya tak ada informasi tentang sumur ini dan fungsinya pada jaman komunisme. Tapi bisa saya bayangkan sumur ini digunakan sebagai arena berkumpul.

Tur mobil tua 

Tur mengelilingi jalanan-jalanan kecil di Prague dengan mobil tua nampaknya cukup populer, saya perhatikan banyak mobil-mobil tua yang mengelilingi kota. Tur satu jam ini dibandrol dengan harga 100€ untuk satu jam. Pengemudi kami membawa keliling Prague, hingga sejauh castle sambil menjelaskan gedung-gedung yang kami lewati. Tak seperti tur di tempat lain, di sini turnya sangat strict, engga bisa melenceng kemana-mana.

Saya sendiri tak menyarankan untuk mengambil tur ini ketika musim dingin, karena hawa dingin benar-benar menampar. Di akhir perjalanan saya iseng menanyakan usia kendaraan, ternyata mobil ini bukan mobil kuno, hanya replika yang sengaja dipanjangkan untuk tujuan turistik.

Petrin Hill & Observation Tower

Tower yang terletak di atas bukit ini bisa dicapai melalui funicular railway, tram yang berjalan miring dan merambat di sisi bukit. Ongkos tram sender sudah termasuk dalam tiket harian yang saya beli untuk keliling kota dan dibandrol dengan harga 110 CZK.

Kami tak memutuskan untuk menaiki tower ini karena matahari sudah mulai tenggelam.  Ya beginilah kalau liburan di musim dingin, matahari bersembunyi lebih cepat.

Makan

Tak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tak mengulas makanan. Dari sekian banyak makanan yang saya makan, saya merekomendasikan Michelin Star restaurant V Zátiší untuk fine dining. Harga makanannya sendiri relatif bersahabat, tak lebih dari 50€ dan sudah termasuk 2 menu makanan, tips serta alcohol. Di Dublin, Michelin star setidaknya mematok harga tiga kali lipat dari harga Prague. Saya juga merekomendasikan roti khas Prague yang dijual di banyak sudut kota seharga 2€, roti-roti ini bisa diisi dengan pistachio, nuttela, ataupuan cream.

Atau kalau ingin mencoba yang lain, bisa mencoba ice cream canabis ini. Jika tak suka ice cream, ada permen, cookies, coklat, beer yang juga mengandung canabis.

Penutup

Prague itu terlalu indah dan terlalu menarik untuk dijelajah selama akhir pekan. Setidaknya diperlukan 3-5 hari untuk menjelajahi semua keindahannya, termasuk museum-museumnya. Selain harus berhati-hati dengan copet yang bersembunyi di balik kerumumanan manusia, pemilihan sepatu juga harus hati-hati, karena berjalan di cobblestone sayang tak nyaman di kaki.

 

Bagaimana, berminat untuk menjelajahi Prague?

xx,
Tjetje

Advertisements

Menggigil di Tenerife Utara

Jika di selatan Tenerife saya bermandikan matahari, bahkan bisa berjemur dengan suhu belasan derajat, di utara Tenerife saya menggigil karena cuacanya yang jauh lebih dingin. Wilayah utara Tenerife dihiasi dengan pegunungan Teide yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage).

Gunung Teide merupakan gunung berapi yang masih aktif. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 1909. Puncak gunung ini sendiri bisa dilihat dengan menaiki kereta gantung, bahkan beberapa operator menawarkan wisata malam hari sambil melihat indahnya langit-langit dan bintang-bintang. Sayangnya ketika kami pergi kesana, kereta gantung tersebut sedang tidak beroperasi selama beberapa hari, karena alasan keamanan. Alhasil, saya hanya bisa berpuas diri dengan pemandangan di atas. Beruntungnya, Tenerife ketika saya kunjungi tak sedang bersalju, hanya sedikit frosty, dingin dengan es di berbagai sudut.

Satu sisi pegunungan ini begitu cantik karena siraman matahari, sementara sisi lain pegunungan ini menawarkan pemandangan yang muram durja. Kemuraman ini tentunya karena musim dingin. Konon di musim panas, pegunungan ini diwarnai dengan tanaman-tanaman endemik berwarna merah yang bernama Teide bugloss. Mungkin satu hari kami harus kembali lagi untuk sekedar melihat tanaman-tanaman cantik tersebut.

 

The gloomy side of Teide #Spain #unescoworldheritage #NorthTenerife #Tenerife #Volcano #Teide

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Perjalanan mengelilingi gunung Teide sendiri relatif aman, jalanan tak terlalu lebar, tapi juga tak terlalu kecil. Dan di sepanjang perjalanan ini kami dimanjakan dengan pemandangan yang cantik. Satu hal yang perlu di catat, di Teide tak ada binatang buas, binatang terbesar yang ada di wilayah pegunungan ini adalah kelinci. Sementara hewan unik dari wilayah ini adalah landak (hedgehog) serta lizard.

Tak lengkap rasanya menyusuri Tenerife jika tak menjenguk desa Masca, sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan. Pada masa penyerangan bajak laut, desa ini konon tak pernah diserang, mungkin karena lokasinya yang sangat jauh. Nah bagian mengerikan dari kunjungan ke desa ini adalah jalanan yang berkelok-kelok dan sangat sempit. Diperlukan keahlian luar biasa bagi para pengemudi untuk bisa mengemudikan bis kecil, terutama di belokan yang naik tajam. Mulut saya tak berhenti komat-kamit, berdoa, apalagi ketika melihat bis di depan saya terus-menerus melorot. Doa saya makin kencang ketika bis ini berpapasan dengan mobil-mobil sewaan yang dikendarai turis yang tak paham medan dan mau menguasai jalanan kecil ini.

Bagi yang menyukai trekking, desa ini juga terkenal sebagai tujuan mendaki. Masca Barranco bisa dicapai dengan berjalan selama tiga jam saja. Mungkin untuk orang Asia dengan jangkauan kaki yang lebih pendek, bisa empat jam saja. Saya sendiri tak tergoda melakukannya, kendati diiming-imingi pemandangan cantik, dari laut ke pegunungan.

Bicara jalan-jalan tentunya tak lengkap jika tak membahas oleh-oleh khas. Ada beberapa hal yang khas dari tempat ini, salah satunya perhiasan dari batu obsidian, batu-batu berwarna hitam yang bisa ditemukan di sekitar gunung Teide. Selain itu, selai kaktus juga bisa menjadi alternatif buah tangan. Bagi mereka yang menyukai alkohol, ronmiel, rhum yang bercampur dengan madu menjadi buah tangan yang wajib dibawa.

Mencari Kehangatan di Tenerife

Salam hangat dari sisi dunia yang lebih hangat, Tenerife, pulau terbesar di kelompok kepulauan Canary. Terletak di sebelah barat Moroko, pulau ‘kecil’ yang menjadi magnet para pencari matahari ini dapat ditempuh dengan penerbangan selama empat jam saja dari Dublin, sementara dari Indonesia perjalanannya cenderung lebih jauh dan lebih ribet.

Kendati secara lokasi lebih dekat ke Afrika, pulau ini merupakan milik pemerintah Spanyol semenjak lima ratus tahun yang lalu. Bahasa resminya sendiri adalah bahasa Spanyol, sementara mata uangnya tentu saja Euro. Kendati begitu, pulau ini tak termasuk bagian dari EU. Hari ini saya menemukan hal menarik, bahwa bahasa Spanyol yang digunakan disini sedikit berbeda dengan yang digunakan di daratan. Menurut salah seorang pelayan di restauran, bahasa mereka disini kurang baku.

Tenerife menjadi rumah dari sebuah gunung berapi Teide. Gunung yang terakhir meletus di tahun 1909 ini masih aktif dan bisa dicapai dengan kereta gantung. Gunung ini sendiri menjadi gunung berapi tertinggi tertiga yang terletak di pulau vulkanik. Posisi pertama dan kedua sendiri diduduki oleh Mauna Kea dan Mauna Loa di Hawaii. Ketika pesawat mendarat, gunung ini bisa dilihat dari sisi kiri, sekali lagi sisi kiri pesawat, berkalung awan, sangat cantik. Gunung ini sendiri jadi mengingatkan saya dengan gunung Rinjani di Lombok yang juga terlihat cantik ketika pesawat akan mendarat atau lepas landas.

Terdapat dua bandara di Tenerife, di bagian utara dan dan di bagian selatan. Persis seperti di pulau Bali, bagian selatan pulau ini dipenuhi oleh hotel-hotel berbintang yang terletak tak jauh dari Samudra Atlantik. Daerah pinggir pantai sendiri dipenuhi oleh restauran dan juga toko-toko baju dan suvenir. Daster-daster yang ditawarkan pun tak jauh berbeda dengan yang dijual di pasar Sukawati. Bahkan, gantungan kunci dan pembuka botol yang berbentuk seperti alat kelamin pria juga bisa ditemukan disini. Saya bahkan menemukan satu yang dihiasi cicak. Ewwwww……

Deretan pantai-pantai berpasir hitam, karena gunung berapi Teide, dipenuhi dengan pemburu matahari seperti saya. Kursi-kursi untuk berjemur ditawarkan dengan harga murah, hanya 5 Euro saja untuk seharian, jauh lebih murah ketimbang Bali. Tiket sendiri dijual petugas yang berkeliling. Saya sendiri baru diminta membayar setelah lebih dari 45 menit memanggang kulit. Nah kalau di Bali ada banyak dadong-dadong yang menawarkan pijat, disini juga serupa. Para penjaja tas dan juga suvenir juga banyak berkeliaran, bedanya mereka tak terlalu memaksa. Dari pengamatan saya, kebanyakan para penjaja suvenir ini merupakan orang-orang Afrika.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya terus-menerus membandingkan dengan Bali? Ya karena area wisata ini bentuknya hampir sama dengan pantai-pantai di selatan Bali yang dipenuhi dengan resort-resort. Keramaian dan kepadatannya pun mirip dengan Bali.

Beberapa fakta menarik tentang Tenerife:

  • Christopher Columbus yang menemukan Amerika itu melakukan perjalanan dari provinsi Tenerife di tahun 1492, bukan dari pulau ini tapi dari Gomera.
  • Kecoa nampaknya menjadi masalah banget di pulau ini. Konon, kecoa yang kehilangan kepala disini bisa hidup sampai dua minggu. Well, pada pagi pertama suami saya udah ketemu sama kecoa dan gak berani ngegetok, karena takut lebih banyak lagi yang muncul.
  • Pulau ini dikunjungi setidaknya 5 juta turis setiap tahunnya, wajar saja, karena matahari yang menyirami pulau ini selama 300 hari.

Xx,
Tjetje

 

Malang Yang Panas Membara 

Kota cantik yang dikelilingi banyak gunung ini saya kenang sebagai kota yang adem dan tenteram. Jaman sekolah dulu, kota ini dingin sehingga saya harus berbalut jaket menuju sekolah. Tapi berapa tahun belakangan, Malang berubah menjadi kota yang semrawut dan panas. Sumuk kalau kata orang Malang.

Sebagian trotoar yang sudah diperbaiki dan memiliki guiding block

Jalanan kota Malang dipenuhi dengan berbagai kendaraan, yang didominasi sepeda motor. Sayangnya, sama seperti di banyak tempat lain di Indonesia, para pengemudi sepeda motor ini masih banyak yang tak tahu aturan mengemudi dan lebih cocok jadi penari liang-liong. Soal macet jangan ditanya lagi.

Taksi menjadi andalan saya kemana-mana. Mikrolet biru, angkutan kota Malang tak lagi menjadi pilihan saya. Ongkosnya mungkin hanya 4000 rupiah, tetapi lambatnya daya tempuh menuju satu titik membuat saya tak sabar lagi. Orang-orang seperti saya inilah yang mematikan mikrolet yang memang sekarat. Ongkos taksi sendiri dibandrol minimal 30000. Sementara jika naik di pangkalan, ada ongkos ekstra 5000 rupiah untuk parkir. Sebenarnya bukan untuk parkir, tapi untuk para preman yang menguasai jalanan kota-kota Malang.


Kota Malang masih menawarkan kuliner yang membuat lidah saya menari-nari kegirangan. Nanti, dalam postingan terpisah akan saya ceritakan makanan apa saja yang berhasil membangkitkan kenangan masa lalu saya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah dari Jakarta dan rasanya lebih enak. Tapi mungkin bagi banyak orang, makanan tersebut menjadi mahal, apalagi UMR di Malang hanya 2.100.000 rupiah.

Malang juga dihiasi dengan sebuah masalah baru, meroketnya harga properti. Tingginya pendatang, terutama mahasiswa, membuat harga properti melonjak tinggi. Mahasiswa-mahasiswa ini tak hanya mencari kamar kos eksklusif, tapi banyak juga yang membeli properti. Tentu bukan mereka, tapi orang tuanya. Gaya hidup mahasiswa sekarang juga berbeda. Mereka tak lagi makan di warung, tapi makan di Cafe. Tak heran kalau Cafe di Malang menjamur dan bisa bertahan. Sementara, mereka yang dompetnya kurang tebal bisa berpacaran di pinggir jalan Ijen yang mulai dihiasi banyak kursi. Persis seperti di Sudirman. Bedanya, jalanan ini dipenuhi pohon-pohon rindang.

Tapi dibalik keruwetan sebuah kota yang terus berkembang, Malang masih menawarkan keramahan khas Arema. Bahkan, Mas-mas parkir dengan romantisnya memayungi dan menunggu hingga saya selesai memasukkan semua barang ke dalam kendaraan. Kata dia, saya tak boleh tersiram hujan, nanti masuk angin. Sayangnya mas tukang parkir tak bisa menyelamatkan sandal cantik saya yang terendam genangan air. Ah sudahlah, gak usah bahas gorong-gorong, nanti sakit hati….

Kamu, pernah ke Malang?

Xx,
Tjetje
Turis yang kaget melihat perubahan Malang

Inside Abu Dhabi’s Sleeping Pod

Jetlag’s has always been everybody’s enemy when traveling over different time zones. Especially when one has to travel from the north to the south of the hemisphere; or from the West to the West of Indonesia. To combat jetlag, I always try to manage my sleep during the travel period. I calculate and consider everything, from the departure time, the total hours of the travel, the transit and my schedule upon arrival. In the past, I had to attend meeting after long journey and had to make sure that I am fully awake for the meetings.


For my trip to Indonesia, I got a bargain, a real good one. However, the ticket including a 14 hours stop over at Abu Dhabi. It was an awfully long stop over and my calculation required me to be sleep during this stop over (and fully awake during the two legs). The first option is of course to find a hotel in Abu Dhabi. Taking a hotel outside of the airport was not a choice, as I have to apply for a visa. The option is limited to stay inside the hotel and I had to choose, to stay in the airport hotel or in the world first sleeping pod. Of course I opted the latter.

 

Located in the first floor of terminal three, slightly secluded, the Go Sleep, was not easy to find. Blame it to the big and busy airport. After more than 30 minutes walking, I managed to find the place. The check in process took quite a while, more than 7 minutes (I do not normally timing this, but hey, this was my first time). The guy behind the counter was on the phone when I arrived, and during the check in he answered two phone calls and answered queries from two other passers by who then walked away when they saw the price. Pretty efficient check in process.

The introduction to the seat was very quick. The guy handed me an earplug and stored my hand luggage and my hand bagå inside the hidden compartment under the seat. He then showed me how to adjust the seat. Simply put the up and down button, pretty straightforward. Designed and produced in Finland, the pod, to me, looks like a modern coffin with the UK plug (hooray for this) for an electronic device phone and two USB plugs.

The cover itself was very light and must be pulled manually by the hand. There were few big holes in the pod to pull it. Right in front of my face, there were around 9 or 12 holes which allow the air and light to go through. There were not many light in the area, as the light was very minimal, but not too dark. I must say that the pod is perfectly designed and might be fit for those who are claustrophobic.

The damage for 8 hours was around USD 83 (around IDR 1.3 million) . This is excluding the pillow and blanket for additional USD 5 and USD 12 respectively. I chose not to rent them, thinking that I’ll be fine with my little neck pillow. I was of course wrong as the area was quite cold and I had to take out my jumper, which btw didn’t help much. A pillow itself, in my opinion, is not needed as on the top of the seat, there is a head area, covered by a white sheet. For hygiene purpose, they change the cover everytime a new user come.


So how was the sleep? To be completely honest, I was unable to sleep on my first two hours. Perhaps I was too excited. So I took many pictures and uploaded IG stories (please check how the pod looks like in my IG @binibule). It started to be a bit annoying on the third hour, because the area is quite noisy. I could hear kids screaming, crying; adults who are sleeping in a next area (there is a sleeping area next to it). To make it worse, a lazy person behind the desk was trying to make few phone call using loudspeaker and I could hear the dial tone. It was just awfully loud. And in case you are wondering, the earplugs was useless.

If I have another opportunity to sleep in the pod, even if it is free, I would not want to do it. The area where the pods situated are quite noisy and nobody from Go Sleep try to make it quieter. During the 8 hours of my stay there, I probably was only sleep properly for two or three hours. Not to mention that the area is quite far from the toilet and the closest toilet was more than 150 meters away (I tend to drink a lot when travelling). And I would not recommend it to any of you either, unless you have spare cash or trying to get the experience. But really, just stick to the normal hotel with a comfy and real bed.

Okay ciao for now, lunch is being served and one has to enjoy it.

Xx,
Tjetje
Posting it from the sky

PS: photos will be uploaded as soon as I land. Technical glitch on the air 🙂

Di Balik Ide Paspor Hijau

Ketika pertama kali menulis blog di Multiply  belasan tahun yang lalu (eh sudah belasan atau masih puluhan ya?), saya memilih memfokuskan diri untuk menulis cerita gado-gado dan cerita sosial. Hobi menulis cerita-cerita dengan tema ini banyak dipicu kegemaran saya membaca cerita gado-gado di majalah Femina sejak usia remaja. Kendati menyukai jalan-jalan, cerita perjalanan saya hanya menjadi cerita selingan yang terserak dan tak tertata di blog saya http://www.binibule.com.

Beberapa tahun yang lalu, muncul ide untuk memisahkan tulisan-tulisan tersebut dalam blog terpisah. Tapi ide itu tak segera diwujudkan karena berbagai hal. Salah satu alasannya tentu saja malas karena harus berkomitmen pada dua blog. Pada saat yang sama, saya juga bingung harus memilih domain apa jika memisahkan cerita-cerita perjalanan.

Beberapa minggu belakangan ini, saya berdiskusi panjang dengan seorang teman, anak muda yang sudah menjelajah lebih dari 50 negara. Inti diskusi itu satu, saya menyemangatinya untuk menuangkan cerita perjalanannya mengelilingi negara-negara tersebut. Dalam diskusi kami, saya melemparkan beberapa domain yang terdengar menarik. Salah satunya pasporthijau.com. Nama paspor hijau ini tentu saja berangkat dari warna paspor kita yang hijau. Paspor kecintaan yang seringkali menjadi bahan celaan, karena tak memberikan privilege apa-apa.

Sayangnya, atau mungkin lebih tepatnya, syukurnya, nama ini ditolak oleh sang teman. Alhasil, nama ini saya gunakan untuk mewujudan ide yang tertunda selama lebih dari empat tahun. Tag blog ini sendiri, not a travel blogger, atau dalam bahasa Indonesinya bukan travel blogger, untuk menggarisbawahi bahwa saya memang bukan travel blogger. Saya hanya social blogger yang kadang-kadang jalan-jalan dan mengumpulkan cerita perjalanannya di satu platform  tersendiri. Siapa tahu, cerita saya berguna dan bisa menyentil para pemegang paspor hijau lainnya supaya ikut jalan-jalan dengan paspornya yang sakti itu.

Cerita perjalanan saya, termasuk #JelajahIrlandia, perlahan-lahan akan saya pindahkan ke dalam blog ini. Sementara untuk akun media sosial di Twitter dan Instagram tetap, tak berubah. @BinibuleID di Twitter serta @binibule di IG. Silahkan difollow ya. Untuk IG @ailsadempsey gak usah difollow deh, karena itu akun khusus kerjaan.

Have a nice day everyone!

Xx,
Tjetje