Mencari Kehangatan di Tenerife

Salam hangat dari sisi dunia yang lebih hangat, Tenerife, pulau terbesar di kelompok kepulauan Canary. Terletak di sebelah barat Moroko, pulau ‘kecil’ yang menjadi magnet para pencari matahari ini dapat ditempuh dengan penerbangan selama empat jam saja dari Dublin, sementara dari Indonesia perjalanannya cenderung lebih jauh dan lebih ribet.

Kendati secara lokasi lebih dekat ke Afrika, pulau ini merupakan milik pemerintah Spanyol semenjak lima ratus tahun yang lalu. Bahasa resminya sendiri adalah bahasa Spanyol, sementara mata uangnya tentu saja Euro. Kendati begitu, pulau ini tak termasuk bagian dari EU. Hari ini saya menemukan hal menarik, bahwa bahasa Spanyol yang digunakan disini sedikit berbeda dengan yang digunakan di daratan. Menurut salah seorang pelayan di restauran, bahasa mereka disini kurang baku.

Tenerife menjadi rumah dari sebuah gunung berapi Teide. Gunung yang terakhir meletus di tahun 1909 ini masih aktif dan bisa dicapai dengan kereta gantung. Gunung ini sendiri menjadi gunung berapi tertinggi tertiga yang terletak di pulau vulkanik. Posisi pertama dan kedua sendiri diduduki oleh Mauna Kea dan Mauna Loa di Hawaii. Ketika pesawat mendarat, gunung ini bisa dilihat dari sisi kiri, sekali lagi sisi kiri pesawat, berkalung awan, sangat cantik. Gunung ini sendiri jadi mengingatkan saya dengan gunung Rinjani di Lombok yang juga terlihat cantik ketika pesawat akan mendarat atau lepas landas.

Terdapat dua bandara di Tenerife, di bagian utara dan dan di bagian selatan. Persis seperti di pulau Bali, bagian selatan pulau ini dipenuhi oleh hotel-hotel berbintang yang terletak tak jauh dari Samudra Atlantik. Daerah pinggir pantai sendiri dipenuhi oleh restauran dan juga toko-toko baju dan suvenir. Daster-daster yang ditawarkan pun tak jauh berbeda dengan yang dijual di pasar Sukawati. Bahkan, gantungan kunci dan pembuka botol yang berbentuk seperti alat kelamin pria juga bisa ditemukan disini. Saya bahkan menemukan satu yang dihiasi cicak. Ewwwww……

Deretan pantai-pantai berpasir hitam, karena gunung berapi Teide, dipenuhi dengan pemburu matahari seperti saya. Kursi-kursi untuk berjemur ditawarkan dengan harga murah, hanya 5 Euro saja untuk seharian, jauh lebih murah ketimbang Bali. Tiket sendiri dijual petugas yang berkeliling. Saya sendiri baru diminta membayar setelah lebih dari 45 menit memanggang kulit. Nah kalau di Bali ada banyak dadong-dadong yang menawarkan pijat, disini juga serupa. Para penjaja tas dan juga suvenir juga banyak berkeliaran, bedanya mereka tak terlalu memaksa. Dari pengamatan saya, kebanyakan para penjaja suvenir ini merupakan orang-orang Afrika.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa saya terus-menerus membandingkan dengan Bali? Ya karena area wisata ini bentuknya hampir sama dengan pantai-pantai di selatan Bali yang dipenuhi dengan resort-resort. Keramaian dan kepadatannya pun mirip dengan Bali.

Beberapa fakta menarik tentang Tenerife:

  • Christopher Columbus yang menemukan Amerika itu melakukan perjalanan dari provinsi Tenerife di tahun 1492, bukan dari pulau ini tapi dari Gomera.
  • Kecoa nampaknya menjadi masalah banget di pulau ini. Konon, kecoa yang kehilangan kepala disini bisa hidup sampai dua minggu. Well, pada pagi pertama suami saya udah ketemu sama kecoa dan gak berani ngegetok, karena takut lebih banyak lagi yang muncul.
  • Pulau ini dikunjungi setidaknya 5 juta turis setiap tahunnya, wajar saja, karena matahari yang menyirami pulau ini selama 300 hari.

Xx,
Tjetje

 

Advertisements