Malang Yang Panas Membara 

Kota cantik yang dikelilingi banyak gunung ini saya kenang sebagai kota yang adem dan tenteram. Jaman sekolah dulu, kota ini dingin sehingga saya harus berbalut jaket menuju sekolah. Tapi berapa tahun belakangan, Malang berubah menjadi kota yang semrawut dan panas. Sumuk kalau kata orang Malang.

Sebagian trotoar yang sudah diperbaiki dan memiliki guiding block

Jalanan kota Malang dipenuhi dengan berbagai kendaraan, yang didominasi sepeda motor. Sayangnya, sama seperti di banyak tempat lain di Indonesia, para pengemudi sepeda motor ini masih banyak yang tak tahu aturan mengemudi dan lebih cocok jadi penari liang-liong. Soal macet jangan ditanya lagi.

Taksi menjadi andalan saya kemana-mana. Mikrolet biru, angkutan kota Malang tak lagi menjadi pilihan saya. Ongkosnya mungkin hanya 4000 rupiah, tetapi lambatnya daya tempuh menuju satu titik membuat saya tak sabar lagi. Orang-orang seperti saya inilah yang mematikan mikrolet yang memang sekarat. Ongkos taksi sendiri dibandrol minimal 30000. Sementara jika naik di pangkalan, ada ongkos ekstra 5000 rupiah untuk parkir. Sebenarnya bukan untuk parkir, tapi untuk para preman yang menguasai jalanan kota-kota Malang.


Kota Malang masih menawarkan kuliner yang membuat lidah saya menari-nari kegirangan. Nanti, dalam postingan terpisah akan saya ceritakan makanan apa saja yang berhasil membangkitkan kenangan masa lalu saya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah dari Jakarta dan rasanya lebih enak. Tapi mungkin bagi banyak orang, makanan tersebut menjadi mahal, apalagi UMR di Malang hanya 2.100.000 rupiah.

Malang juga dihiasi dengan sebuah masalah baru, meroketnya harga properti. Tingginya pendatang, terutama mahasiswa, membuat harga properti melonjak tinggi. Mahasiswa-mahasiswa ini tak hanya mencari kamar kos eksklusif, tapi banyak juga yang membeli properti. Tentu bukan mereka, tapi orang tuanya. Gaya hidup mahasiswa sekarang juga berbeda. Mereka tak lagi makan di warung, tapi makan di Cafe. Tak heran kalau Cafe di Malang menjamur dan bisa bertahan. Sementara, mereka yang dompetnya kurang tebal bisa berpacaran di pinggir jalan Ijen yang mulai dihiasi banyak kursi. Persis seperti di Sudirman. Bedanya, jalanan ini dipenuhi pohon-pohon rindang.

Tapi dibalik keruwetan sebuah kota yang terus berkembang, Malang masih menawarkan keramahan khas Arema. Bahkan, Mas-mas parkir dengan romantisnya memayungi dan menunggu hingga saya selesai memasukkan semua barang ke dalam kendaraan. Kata dia, saya tak boleh tersiram hujan, nanti masuk angin. Sayangnya mas tukang parkir tak bisa menyelamatkan sandal cantik saya yang terendam genangan air. Ah sudahlah, gak usah bahas gorong-gorong, nanti sakit hati….

Kamu, pernah ke Malang?

Xx,
Tjetje
Turis yang kaget melihat perubahan Malang

Advertisements