Menggigil di Tenerife Utara

Jika di selatan Tenerife saya bermandikan matahari, bahkan bisa berjemur dengan suhu belasan derajat, di utara Tenerife saya menggigil karena cuacanya yang jauh lebih dingin. Wilayah utara Tenerife dihiasi dengan pegunungan Teide yang masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage).

Gunung Teide merupakan gunung berapi yang masih aktif. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 1909. Puncak gunung ini sendiri bisa dilihat dengan menaiki kereta gantung, bahkan beberapa operator menawarkan wisata malam hari sambil melihat indahnya langit-langit dan bintang-bintang. Sayangnya ketika kami pergi kesana, kereta gantung tersebut sedang tidak beroperasi selama beberapa hari, karena alasan keamanan. Alhasil, saya hanya bisa berpuas diri dengan pemandangan di atas. Beruntungnya, Tenerife ketika saya kunjungi tak sedang bersalju, hanya sedikit frosty, dingin dengan es di berbagai sudut.

Satu sisi pegunungan ini begitu cantik karena siraman matahari, sementara sisi lain pegunungan ini menawarkan pemandangan yang muram durja. Kemuraman ini tentunya karena musim dingin. Konon di musim panas, pegunungan ini diwarnai dengan tanaman-tanaman endemik berwarna merah yang bernama Teide bugloss. Mungkin satu hari kami harus kembali lagi untuk sekedar melihat tanaman-tanaman cantik tersebut.

 

The gloomy side of Teide #Spain #unescoworldheritage #NorthTenerife #Tenerife #Volcano #Teide

A post shared by Ailsa Dempsey (@binibule) on

Perjalanan mengelilingi gunung Teide sendiri relatif aman, jalanan tak terlalu lebar, tapi juga tak terlalu kecil. Dan di sepanjang perjalanan ini kami dimanjakan dengan pemandangan yang cantik. Satu hal yang perlu di catat, di Teide tak ada binatang buas, binatang terbesar yang ada di wilayah pegunungan ini adalah kelinci. Sementara hewan unik dari wilayah ini adalah landak (hedgehog) serta lizard.

Tak lengkap rasanya menyusuri Tenerife jika tak menjenguk desa Masca, sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik pegunungan. Pada masa penyerangan bajak laut, desa ini konon tak pernah diserang, mungkin karena lokasinya yang sangat jauh. Nah bagian mengerikan dari kunjungan ke desa ini adalah jalanan yang berkelok-kelok dan sangat sempit. Diperlukan keahlian luar biasa bagi para pengemudi untuk bisa mengemudikan bis kecil, terutama di belokan yang naik tajam. Mulut saya tak berhenti komat-kamit, berdoa, apalagi ketika melihat bis di depan saya terus-menerus melorot. Doa saya makin kencang ketika bis ini berpapasan dengan mobil-mobil sewaan yang dikendarai turis yang tak paham medan dan mau menguasai jalanan kecil ini.

Bagi yang menyukai trekking, desa ini juga terkenal sebagai tujuan mendaki. Masca Barranco bisa dicapai dengan berjalan selama tiga jam saja. Mungkin untuk orang Asia dengan jangkauan kaki yang lebih pendek, bisa empat jam saja. Saya sendiri tak tergoda melakukannya, kendati diiming-imingi pemandangan cantik, dari laut ke pegunungan.

Bicara jalan-jalan tentunya tak lengkap jika tak membahas oleh-oleh khas. Ada beberapa hal yang khas dari tempat ini, salah satunya perhiasan dari batu obsidian, batu-batu berwarna hitam yang bisa ditemukan di sekitar gunung Teide. Selain itu, selai kaktus juga bisa menjadi alternatif buah tangan. Bagi mereka yang menyukai alkohol, ronmiel, rhum yang bercampur dengan madu menjadi buah tangan yang wajib dibawa.

Advertisements